Saturday, February 10, 2007

In Memoriam Jembatan Gantung

Jembatan Gantung yang menghubungkan Condet dengan Pasar Minggu ini hilang sudah.
Banjir yang menghajar Jakarta dengan jutaan sampah dan grojokan air yang mencari tempat yang lebih rendah tidak mampu ditahan Jembatan Gantung ini.

Kita tunggu saja, kapan Pemerintah akan bergerak untuk mulai membangun Jembatan baru. Sampai hari ini (Sabtu, 10 Februari 2006) sampah masih menumpuk dan aparat nampaknya kebingunan bagaimana memindahkan sampah yang ada.

Bagaimana wujud jembatan pengganti ? Apakah akan dibangun jembatan gantung lagi atau digantikan dengan jembatan beton ? Apakah jembatan ini akan diperlebar sehingga bisa dilewati mobil ataukah tetap seperti dahulu, hanya motor yang bisa lewat.

Gambar ini diambil Bulan Juli 2005 untuk ilustrasi tulisan di blog ini. Warna jembatan sudah pudar.














Gambar ini diambil hari Sabtu, 3 Februari 2007 jam 11.36. Jembatan Gantung ini masih digunakan menyeberang oleh masyarakat sekitar. Walaupun rumah-rumah yang berada di sisi jembatan ada yang sudah terendam tetapi air sungai masih 1 meter dari bagian bawah jembatan.









Gambar ini diambil masih di hari Sabtu tanggal 3 Februari 2007 jam 18.04.
Air sudah satu meter diatas jembatan. Jembatan Gantung ini juga sudah bengkok di bagian tengah tidak mampu menahan sampah dan arus sungai. Jembatan gantung ini tinggal menunggu kematiannya.







Hari Minggu, 4 Februari 2007 jam 11.02 saat foto ini diambil, tiang-tiang utama Jembatan Gantung ini sudah roboh.











Gambar ini diambil satu minggu setelah banjir hari Sabtu, 10 Februari 2007. Dari foto 1,3 dan 4 serta foto ini kelihatan yang masih tinggal adalah lampu sorot jembatan bagian Kiri dan plang nama : Risky Sukarman.














Sisa-sisa Jembatan Gantung











Cerita terdahulu mengenai Jembatan Gantung ini bisa dibaca di : http://anindito.blogspot.com/2005_07_01_anindito_archive.html

Foto-foto lain bisa dilihat di :

http://alexdidit.multiply.com/

Saturday, February 03, 2007

Kampus UI, Depok

Pilihan jalan-jalan kali ini adalah Depok dengan fokus di dalam Kampus UI. Niatnya mau sedikit olah raga dan menghirup udara segar.

Jam 08.00 rombongan sudah berkumpul di parkiran depan FISIP UI. Rute pertama kita menuju Hollywood UI, gak tahu dari mana asal muasal sebutan ini berawal karena kebiasaan ya jadi nama yang umum. Nggak sampe dua puluh menit sampailah kita di Hollywood UI.

Nasi uduk dengan lauk tempe dan tahu goreng ditemani emping dan sambal langsung keluar dari backpack. Nikmat sarapan nasi uduk di bawah rimbunan pohon, sayang banyak nyamuk-nyamuk yang ikutan makan kita. Baru mau kelar makan keingetan kalo bawa lotion anti nyamuk. Ya.... mendingan telat dari pada tidak sama sekali.

Perut kenyang dan jam belum lagi menunjukkan pukul sembilan, kita mulai jalan lagi. Melipir danau yang berada di bawah jalan keluar kampus UI, sampai tembus ke bendungan di belakang Posko Menwa UI. Perjalanan dilanjutkan ke menara pengawas, mau naik tapi kok tangganya banyak yang udah nggak komplit dan pegangannya udah keropos jadinya kita cukup puas melihat dari bawah aja.

Jalan setapak semen yang kita ikutin ini membawa kita ke jalan aspal antara Kampus Teknik dengan Asrama UI tapi sebelum sampai jalan raya kita berbelok lewat jalan tanah lagi. Di tengah perjalanan ini ada makam lama dengan tempat orang untuk berziarahnya, ajakan untuk melihat makam itu langsung mendapat penolakan dari mayoritas peserta. Mendingan ngeliat orang mancing, jadinya sebelum tembus ke jalan aspal kita masuk ke jalan tanah lagi untuk melipir danau ngeliat orang mancing.

Ada lima orang dengan joran terjulur menanti ikan makan umpan yang mereka berikan. Matahari sudah lumayan santer makanya mereka semua berlindung di bawah payung dan bayang-bayang pohon.

Nggak jauh kita jalan sampe deh di Asrama UI. Perjalanan kita akhiri di kantin Asrama, menikmati es teh manis dan macaroni panggang. Gak sampai dua jam perjalanan ini udah selesai. He..he..he... lumayan lah bikin keringet dikit.


Beres mandi dan ganti baju kita makan siang di Nasi Pecel Mbak Ira, letaknya di samping Hero Depok (dulunya ada hero sekarang udah tutup) . Nasi pecelnya masih enak kaya ditambah paru goreng tambah nikmat. Pecelnya Rp 5000,- ditambah paru Rp 4500,- sama es teh tawar Rp 1000,- Enak, murah dan mengenyangkan.

Hey....hey...siapa dia ?

Sudah sekian lama saya memperhatikan billboard di Jalan Margonda ini. Rasa penasaran sudah ada sejak lama, sampai akhirnya sempet motret billboard itu yang kondisinya sudah tercabik.
Billboard itu sendiri isinya tentang anjuran untuk membayar pajak. Rasa ketertarikan saya akan billboard itu adalah fotonya. Nama yang tercantum di sana WR EQ. Swara. Siapakah dia ? Apakah dia kepala Dispenda Depok ? Atau pemilih tempat sablon billboard itu ? Ada yang kenal ? Hey....hey....siapa dia ?

Tuesday, October 31, 2006

Sambolo

Libur lebaran dengan paksaan untuk cuti massal sayang kalau nggak dipake buat jalan-jalan. Kamis pagi kita sudah siap meluncur ke Carita dengan tujuan Sambolo. Jam 08.00 pagi kita masuk tol Kebon Jeruk jarak antar pintu tol sejauh 92 km kita tempuh dalam waktu satu jam. Perjalanan dari Pintu Tol Anyer sampai Sambolo yang makan waktu lebih lama, satu setengah jam. Sampai Sambolo jam 10.30 dan kita langsung bongkar bawaan, beres-beres dan nunggu makan siang dihidangkan. Sebenarnya bisa masak sendiri karena peralatan masak dan makan disediakan tapi kita pilih yang lebih praktis karena waktu yang terbatas.

Makan siang dengan bumbu lapar merupakan menu yang paling lezat. Sambal, lalapan, sayur asem dan lauk ayam serta tempe dan tahu goreng ludes seketika. Walaupun rasanya nggak enak-enak amat tapi karena bumbu lapar itu ditambah makan siangnya di bangku taman membuat makan siang ini makin nikmat. Selesai makan ternyata kantuk datang menyerang, gua siesta duluan sementara yang lain ada yang ngobrol dan ada juga yang leyeh-leyeh di ruang tamu yang sejuk.
Lama juga gua tidur, bangun-bangun udah jam empat sore. Matahari udah agak bersahabat kita langsung turun ke laut. Sambolo merupakan komplek bungalow yang terletak disebuah teluk. Pantainya ada yang karang dan ada yang pasir. Pantai di depan tempat kita memang pantai karang, jadi kalau mau berenang kita mesti jalan sekitar 3 bungalow agar dapat pantai pasir.

Angin nggak terlalu kencang sore ini, upaya untuk menerbangkan layangan yang kita bawa nggak sukses. Padahal itu masih layangan yang kecil belum yang besar. Main air, main pasir sampai matahari tengelam.

Makan malam dihidangkan jam delapan menu sea food bakar dengan lalapan segar dan sambal kecap. Sayang kita nggak belanja sea food sendiri di Labuan dan minta masakin. Kalau kita belanja sendiri pasti lebih nikmat.

Selesai makan obrolan di bangku taman berlanjut sampai jam 02.30 pagi. Untung tadi tidur siang, jadi nggak ngantuk.

Jam delapan pagi sarapan telah dihidangkan dan kita berenam sudah bangun semua untuk memulai aktivitas hari ini. Selesai sarapan, gua langsung nyebur ke laut lagi. Segar banget ngerendem kepala dan main-main air.

Kurang kalau hanya satu hari, tapi mau dikata apa kita harus kembali ke Jakarta. Makan siang kita di Labuan, nggak jauh hanya sekitar 20 menit dari Sambolo. Tujuan utama adalah Rumah makan Ibu Entin.

Rumah makan ini selalu ramai jadi kita harus nunggu untuk dapat tempat duduk. Begitu dapat, dua piring otak-otak yang disajikan langsung ludes dan kita minta piring ke tiga selain yang untuk oleh-oleh. Otak-otaknya besar, kenyal dan terasa rasa ikannya dicocol dengan bumbu kacangnya makin mantap. Harga satuannya Rp 1500 murah.

Makan dengan cara disajikan, jadi kita bayar apa yang kita makan saja. Ada ikan bakar (gak ada yang ambil), ayam bakar (ada yang ambil buat dapet proteinnya), udang bakar (lumayan yang ngambil), sate sapi (lumayan juga yang ngambil), cumi bakar(paling banyak diambil). Cuminya enak banget, seger dan manis. Jadi laper lagi nih.

Selesai deh liburan kali ini. Walau hanya semalam tapi lumayan menghibur untuk tabungan menghadapi kesuntukan di Jakarta kota tercinta.

WG

WG alias Wisma Ganteng, rumah kontrakan beberapa anak FISIP UI yang letaknya dekat dengan jembatan layang UI. Awalnya sih gak ada namanya tapi dengan PD-nya penghuninya memberi nama WG. Tentu saja penamaan itu segera menimbulkan kontroversi karena klaim sepihak dari pihak penghuni ditentang oleh anak-anak lain yang nggak ngontrak.

Awalnya isinya hanya anak FISIP UI angkatan 1992 aja, gelombang awal yang tinggal di WG : Ikra, Donny, Sonny, Derry dan Nono. Setelah berjalan enam bulan tambah penghuni lagi dengan masuknya Gede, Sigit, Papas, Gua, Elan dan Jaja. Dua nama terakhir angkatan 1990. Penghuni gelombang pertama ada yang pindah ke kost lain yaitu Nono dan Sonny.

Komposisi jurusan studi para penghuni juga beragam, mulai dari Politik, Kriminologi, Hubungan Internasional, Sosiologi, Administrasi dan Komunikasi.

WG terdiri dari 3 kamar tidur, satu ruang tamu, satu perpustakaan, satu dapur dan satu kamar mandi. Kamar depan diisi Deri, Donny dan Ikra. Kamar tengah isinya Jaja dan Elan (kita sebut kamar tua) dan kamar paling belakang isinya Gede, Sigit, Papas dan Gua.

Kita kontrak tempat itu selama 3 tahun mulai dari tahun 1995 sampai 1997. Berbagai aktivitas pernah dilakukan di WG mulai dari rapat angkatan, rapat jurusan, rapat pemilu, rapat demo, pembacaan puisi, perayaan ulang tahun, mabuk-mabukan sampai masak-masakan.

Setelah lepas dari WG kita rutin silaturahmi ke Bang Acin dan Mpok Yoyo, induk semang kita. Setiap lebaran kita pasti datang, kadang yang datang hanya 4 orang kadang bisa banyak. Lebaran kemarin paling banyak yang bisa datang 8 orang bekas penghuni WG. Dua orang anak tua yang dulu tinggal di kamar tengah tidak bisa datang karena keduanya berada di luar kota.

Silaturahmi lebaran kali ini lebih rame, karena selain 8 orang ex penghuni juga diramaikan oleh istri dan anak-anak.

Setiap kali ketemu pasti cerita-cerita konyol waktu dulu kita kost keluar lagi. Mulai dari banjir pas liburan yang bikin buku-buku pada ngambang, peliharaan Jaja yang dibilang cikiber padahal Jaja klaim itu Iguana sampe yang jaman kuliah dulu udah pacaran duluan tapi belum nikah sampe sekarang. Tentu saja bumbu-bumbu tambahan dari Bang Acin dan Mpok Yoyo bikin tiap pertemuan selalu ger-geran.

Kemarin kita dijamu dengan pecak ikan mas, sayur asem goreng (Mpok Yoyo bilangnya emang sayur asem goreng) , ikan gabus goreng, sambel dan pete. Nikmat sekali makan sore kita.

Oh masa muda kemana kau pergi ? He....he....he....

Sunday, October 29, 2006

AC

Foto ini merupakan gambar kalau saringan ac mobil tidak pernah dibersihkan selama, ya.... bilanglah 5 tahun. Iya, coba 5 tahun ac mobil nggak pernah dibersihin dan akan timbul kotoran yang menjadi lempengan berwarna hitam pekat.
Tukang service ac nya aja sempe bingung dan kagum. "Mas, kalo service ac paling nggak setahun sekali mas", dia bilang gitu. Gua sahutin " Tapi ac-nya masih dingin tuh mas, ngapain diservice ?". "AC sih emang dingin terus kalo nggak ada yang bocor salurannya. Saringan udara ini yang perlu rutin dibersihin". Agak-agak kerasa sih emang bedanya setelah diservice. Makanya jangan lupa service rutin ac anda.

Wednesday, October 04, 2006

Klub 27

Pernah denger Klub 27 ?

Mau gabung di Klub ini ?
Ini sebagian dari anggotanya :
1. Lewis Brian Hopkin Jones (28 Februari 1942 - 3 Juli 1969)
2. James Marshall "Jimi" Hendrix (27 November 1942 0 18 September 1970)
3. Janis Lyn Joplin (19 Januari 1943 - 4 Oktober 1970)
4. James Douglas "Jim" Morrison ( 8 Desember 1943 - 3 Juli 1971)
5. Jean Michel Basquiat (23 Desember 1960 - 12 Agustus 1988)
6. Kurt Donald Cobain (20 Februaru 1967 - 5 April 1994)
7. Soe Hok Gie (17 Desember 1942 - 16 Desember 1969)
8. Chairil Anwar (26 Juli 1922 - 28 April 1949)
9. Andres Escobar (13 Maret 1967 - 2 Juli 1994)
10. Andrew Cunanan (31 Agustus 1969 - 23 Juli 1997)

Anggotanya mempunyai beraneka ragam profesi tapi ada satu kesamaan, mereka semua mati umur 27 tahun. Penyebab kematiannya juga beraneka ragam ada yang O.D, kecelakaan, sakit, dibunuh atau bunuh diri.

Andres Escobar itu pemain bola yang melakukan gol bunuh diri ke gawangnya sendiri akibatnya dia dibunuh sama pengemar kesebelasannya. Andrew Cunanan itu seorang pembunuh berantai salah satu korbannya adalah Versace. Dia mati bunuh diri umur 27 tahun.

Sunday, September 24, 2006

Langit biru Pulau Belitung

Dua minggu sepulang dari Vietnam saya sudah berada di airport lagi. Pagi ini kita mau ke Belitung. Senangnya kalau nggak perlu kerja dan bisa jalan-jalan teraussss. Perjalanan ini sebenarnya agak maksa juga berhubung budget untuk liburan sudah habis tersedot untuk jalan-jalan ke Vietnam. Dorongan kuat dari Haryo dan Selly , ini kali ke tiga mereka ke Belitung, membuat saya yang memang sudah ingin melihat Belitung sejak lama membulatkan tekad.

Ada dua maskapai yang melayani rute Jakarta ke Tanjung Pandan yaitu Sriwijaya Air dan Batavia Air dua-duanya berangkat dari Jakarta sekitar jam 06.00 dan kembali ke Jakarta dari Tanjung Pandang sekitar jam 08.00. Hanya ada satu kali penerbangan setiap harinya.

Sampai Bandara Hanandjoeddin, belum jam 8 pagi. Tempat duduk paling belakang Toyota Kijang carteran kita penuh dengan travel bag kita. Perlengkapan yang kita bawa agak banyak karena kita akan camping dua malam di Pulau Lengkuas, Pulau Mercusuar.

Kunjungan pertama ke rumah teman lama Haryo untuk pinjam galon aqua. Pulau yang akan kita kunjungi hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber air tawar makanya kita siap-siap bawa air tawar sendiri biar nggak ngerepotin orang yang tinggal di mercusuar.

Setelah sarapan mie ayam jamur Belitung, kita belanja sayuran dan buah-buahan di pasar serta beli gas untuk kompor di supermarket. Dua buah kompor kita gunakan satu kompor gas meja dan satu kompor minyak yang sering dipake tukang nasi goreng keliling.

Perjalanan kita awali dengan mengunjungi Hotel Bukit Berahu di daerah Tanjung Binga. Rencananya malam ketiga kita akan menginap di tempat ini. Setengah jam perjalanan dari Tanjung Pandan sampailah kami di Hotel Bukit Berahu.

Langit biru yang luas, awan putih yang berarak dan laut yang warnanya berubah dari hijau muda ke biru tua di kejauhan menjadi pemandangan yang biasa kita temui di tempat ini. Sambil minum di restaurant yang terdapat di puncak bukit, kita menikmati angin yang berhembus di tengah teriknya matahari.

Hanya ada lima bungalow yang terletak di pinggir pantai. Untuk mencapai tempat ini dari restaurant kita harus menuruni kurang lebih seratus anak tangga. Bungalow ini terlatak tepat di tepi pantai hanya sekitar 10 meter dari laut. Kayaknya harus menginap di tempat ini nanti, sayang untuk dilewatkan.

Hotel Bukit Berahu kita tinggalkan untuk mencari carteran kapal yang akan kita gunakan nanti sore menyeberang ke Pulau Lengkuas. Kami pergi ke desa neleyan di Tanjung Binga, nggak jauh letaknya. Harga yang disepakati Rp 500.000,- untuk antar jemput ke Pulau Lengkuas dan satu hari penuh jalan-jalan antar pulau. Kami berjanji akan datang nanti sore sekitar jam empat. Sekarang kami berangkat menuju ke Tanjung Kelayang, sekitar 20 menit dari Tanjung Binga.

Tanjung Kelayang mengingatkan Iwan akan film Y Tu Mama Tambien (And Your Mother Too). Setting tempatnya sesuai dengan imajinasi pantai rahasia Boca del Cielo yang menjadi tujuan perjalanan Tenoch, Julio dan Luisa dalam film itu. Pasir putih pantai yang memanjang, deretan pohon kelapa yang tertiup angin yang kencang, gradasi warna air laut dari hijau menjadi biru, pulau karang tak jauh dari pantai dan rumah-rumah berdinding kayu dengan atap rumbia. Ya … bisalah kalau mau dibuat versi Indonesia dari film itu dan setting lokasinya di tempat ini.

Perut sudah minta diisi tapi kita masih harus pergi ke Tanjung Tinggi sekitar dua puluh menit dari Tanjung Kelayang untuk makan siang. Tanjung Tinggi satu lagi keajaiban alam yang bisa saya saksikan. Tonjolan batu-batu granit dari dalam laut, pasir putih yang menghampar serta laut hijau biru yang tenang mambuat saya ingin menceburkan diri kedalamnya di tengah panas terik matahari. Sambil menunggu makan siang dibuat di restaurant D04, kami jalan-jalan memutari Tanjung Tinggi.

Tiga puluh menit waktu yang digunakan untuk menyiapkan makan siang kita, kita makan agak banyak siang ini : Ikan bakar, cumi bakar, udang bumbu saus padang, tumis kangkung dan Gangan. Gangan adalah masakan khas Belitung dari warnanya saya menyangka kalau akan merasakan kekentalan dan rasa pedas ternyata sayur yang isinya daging dan kepala ikan ini sangat segar. Segar sekali malah, langsung saya jatuh hati pada kecapan pertama. Total dengan minuman habis Rp 144.000,- untuk lima orang.

Selesai makan dan foto-foto kami menuju ke Tanjung Binga untuk menyeberang ke Pulau Lengkuas. Empat puluh menit waktu tempuh dari Tanjung Binga sampai ke Pulau Lengkuas dengan perahu pak Toni, nelayan Tanjung Binga. Agak sore kami sampai di Pulau Lengkuas sekitar jam 17.20.

Setelah minta ijin untuk menginap dan mengisi buku tamu, kami segera mendirikan tenda di tengah angin kencang yang bertiup.


Malam ini kami nggak perlu masak nasi, tapi bungkus nasi di Tanjung Tinggi. Untuk nasi goreng besok pagi kita akan masak nasi malam ini.

Esok paginya sesuai janji, Pak Toni menjemput jam 10.00 dengan membawa empat orang anak-anak. Perjalanan pertama adalah ke Pulau Gendut, kata empat orang anak yang ikut dalam perjalanan ini. Nama ini saya nggak yakin benar soalnya Pak Toni yang asli nelayan sini saja nggak tahu nama pulau yang kita datangi ini. Kalau berdasarkan peta sepertinya ini Pulau Kepayang.
Pulau dengan teluk yang berair tenang ini, disisi utaranya terdapat formasi batu-batuan granit yang tersebar di pantainya sedangkan di sisi selatan pasir putih halus. Pulau ini sangat mempesona.

Puas berenang dan foto-foto serta main-main pasir, perjalanan dilanjutkan mengitari Pulau Babi, kita tidak berhenti di Pulau Babi hanya mengitarinya saja. Tujuan kita adalah Pulau Burung, tempat makan siang. Empat puluh menit kemudian sampailah kami di Pulau Burung. Bekal makan siang buatan Bu RT segera dibuka. Isinya ikan ayam-ayam bakar, cumi goreng tepung, sayur kepal ikan, sambal dan lalapan ditambah rendang yang saya bawa dari Jakarta. Kami semua makan dengan lahap.

Pohon Kweni tumbuh di pulau ini, ada beberapa pohon yang tumbuh di sisi Timur dari Pulau Burung. Anak-anak setelah berenang mengumpulkan buah Kweni yang telah jatuh dari pohonnya. Satu anak ada yang mendapatkan 12 buah Kweni. Pohon Kweni di sini tingginya kurang lebih 15 sampai 20 meteran dengan batang yang sudah tidak mungkin bisa dipeluk orang dewasa. Kweni menjadi pencuci mulut makan siang selain semangka.

Jam 15.00 kita kembali ke Pulau Lengkuas, rupanya salah satu tujuan anak-anak itu ikut hari ini adalah ingin main layang-layang. Haryo bawa dua buah layangan dan sore ini kita main layangan di pantai Pulau Lengkuas.

Pak Toni dan anak-anak kembali ke Tanjung Binga setelah puas main layangan dan berenang memakai gogle kita. Pemandangan bawah laut menjadi amat berbeda dengan menggunakan kaca mata renang ataupun gogle. Banyak ikan yang bisa dilihat dengan jelas kata mereka.

Sambil menunggu sun set kita naik ke mercusuar, ditemani ratusan burung yang terbang rendah dan ribuan kelelawar yang terbang keluar sarang. Matahari sore ini turun tertutup awan di horizon.

Hari Minggu, hari ketiga perjalanan di Belitung. Jam 11.00 kita akan dijemput langsung menuju ke Tanjung Tinggi untuk makan siang, kali ini kita makan di Rindu Pantai. Udang goreng bumbu tepung, cumi bumbu saos tiram, tumis kangkung dang gangan menjadi menu kita siang ini.

Karena besok kita sudah harus ada di bandara jam 07.00, belanja oleh-oleh kita lakukan siang ini. Dari Tanjung Tinggi kita ke Tanjung Pandan untuk belanja oleh-oleh dan mengembalikan galon aqua yang kita pinjam.

Seperti rencana semula malam ini kita menginap di Hotel Bukit Berahu. Sampai di hotel sekitar jam 16.30 dan kita langsung nyebur ke laut. Sunset kita nikmati sambil berenang di laut.

Ah….. besok pagi sudah kembali ke Jakarta, kembali bekerja, kembali ke kemacetan Jakarta. Selamat tinggal luasnya langit biru, selamat tinggal hijaunya air laut, selamat tinggal putihnya pasir pantai, selamat tinggal hembusan angin. Kita akan berjumpa kembali. Semoga.

Tuesday, September 19, 2006

Halong Bay yang luar biasa

Ini tujuan utama kita ke Vietnam. Berlayar dengan perahu di Halong Bay menikmati bukit-bukit yang menonjol dari dasar laut dan menghabiskan malam di perahu.

Kali ini kita orang terakhir yang dijemput dari hotel. Jam 08.30 kita berangkat meninggalkan Hanoi dan tiga jam kemudian kita telah sampai di Halong Bay. Perjalanan ini kami ditemani dengan gerimis dan mendung yang selalu menutupi sinar matahari.

Photobucket - Video and Image Hosting
Deretan perahu yang berlabuh di dermaga Halong Bay

Sampai di dermaga kita menunggu sebentar untuk naik perahu setelah naik perahu ternyata kita menunggu lebih lama lagi. Lebih dari satu jam kita menunggu sampai perahu benar-benar berangkat. Jam 13.00 baru makan siang dihidangkan, perut yang minta diisi segera membuat makanan yang tersedia ludes seketika.

Saya pikir ikan laut itu durinya teratur nggak nyebar sembarangan ternyata ikan laut di sini durinya berantakan. Terpaksa mesti hati-hati memilah durinya. Salah satu sebab saya nggak suka makan ikan adalah duri yang berantakan ketemu deh di sini ikan dengan duri berantakan.


Photobucket - Video and Image Hosting
Menu makan siang : Ikan kukus, lumpia goreng vietnam, tumis labu dengan potongan cumi dan irisan timun

Tujuan kita adalah Thien Cung Grotto dan Dau Go Grotto. Kedua gua ini telah diberi tata cahaya yang membuat makin dramatis pemandangan di dalamnya. Jalur perjalanan dengan jembatan-jembatan penghubung untuk menelusuri gua-gua ini juga sudah dibuatkan.

Perahu bersandar di dermaga pulau dan kita mendaki ke sebuah bukit untuk masuk ke dalam gua Thien Cung. Keluar dari Gua Thien Cung kita turun beberapa meter untuk masuk ke Gua Dau Go.


Photobucket - Video and Image Hosting
Perahu yang berlabuh di Sung Sot Cave. Foto diambil dari pintu keluar gua pertama.

Ornamen di dalam dua gua ini terbilang beraneka ragam. Gourdam, pool, stalaktit, stalakmit dan coulum serta canopy banyak kita temui di dalam gua ini.

Photobucket - Video and Image Hosting
Ornamen dengan tata cahayanya

Kurang lebih satu kami kami berada di lokasi ini, keluar gua kita turun menuju ke dermaga lewah jalan yang berbeda ketika kita masuk tadi. Pada tiket seharga 30.000 dong yang dibagikan oleh guide kami, saya melihat kalau tiket ini hanya dapat digunakan sekali saja pada tanggal dikeluarkan dan dengan satu pilihan rute saja. Rute pertama adalah yang kami lakukan : Thien Cung Grotto, Dau Go Cave dan tempat lain (kecuali Sung Sot cave). Rute kedua : Sung Sot cave dan tempat lainnya (kecuali Thien Cung Grotto dan Dau Go Cave).

Jam 15.00 perjalanan dilanjutkan dengan ditemani mendung yang pekat. Saya bersyukur karena ombak tidak besar. Airnya sangat tenang hanya riak kecil saja. Hal ini mungkin disebabkan karena wilayah perairan di sini terlindungi oleh bukit-bukit yang menonjol dari dalam laut. Halong Bay ditetapkan oleh UNESCO menjadi The World Natural Heritage Site, tempat dengan luas 1500 km persegi ini mempunyai lebih dari 20.000 pulau dengan bukit-bukitnya.
Photobucket - Video and Image Hosting
Mendung yang selalu menemani

Empat puluh menit perjalanan sampailah kita di dermaga Pulau Cat Ba. Pulau dengan luas 300 km persegi ini menjadi pilihan untuk menginap selain di atas perahu. Penumpang dengan pilihan paket menginap di Pulau Cat Ba turun di sini untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan mobil ke hotel.

Jam 17.00 kita sampai di Soi Sim, tempat dengan dermaga luas ini diperuntukkan orang-orang yang ingin berenang, main kayak ataupun banana boat. Mendung yang pekat membuat saya enggan turun ke air, saya memilih naik ke puncak bukit. Empat puluh menit perahu berhenti untuk memberikan kesempatan berenang atau jalan-jalan.
Photobucket - Video and Image Hosting
Ada yang mau berenang ?

Perjalanan dilanjutkan menuju tempat kita akan menginap malam ini. Jam 18.30 sampailah kita di lokasi tempat kita akan menghabiskan malam. Daerah ini dikenal dengan nama Ti Top Beach. Malam ini ada sekitar 20 perahu yang bermalam disini. Saya hampir tidak percaya kalau kita berada di atas perahu di tengah laut karena sama sekali tidak ada gelombang ataupun riak air. Seperti kita berada di atas daratan saja, benar-benar tenang.

Pemandangan malam ini sangat mempesona, perahu dengan pantulan lampunya di air, bukit-bukit yang mengelilingi dan semilir angin. TE O PE BE GE TE
Photobucket - Video and Image Hosting
Lokasi tempat kita bermalam.


Photobucket - Video and Image Hosting
Kamar di perahu, kita dapat di lantai atas.

Photobucket - Video and Image Hosting
Menu makan malam yang luar biasa : Tumis toge dan kangkung, nugget ikan, kentang goreng, sup jagung, labu iris dengan fillet daging babi, telur dadar, ikan kukus dan nasi, minumnya Halinda Beer. Makan malam yang nikmat.

Malam ini di perahu ada satu orang Australia, dua orang Norwegia, dua orang Perancis, tiga orang Spanyol, empat orang Amerika dan dua orang Indonesia. Sebagian ngobrol di ruang tengah yang merangkap tempat makan dan yang lain ke geladak atas menikmati semilir angin.

Esok harinya jam 06.00 perahu kami telah berangkat in menuju ke Pulau Cat Ba untuk menjemput rombongan yang menginap di Pulau Cat Ba. Sebelum merapat kami sempat merasakan ombak yang lumayan besar. Sekitar setengah jam, perahu sempat terhempas ke kiri dan kanan serta lunas kapal menghajar laut beberapa kali. Hampir jam 08.00 sampailah kami di Pulau Cat Ba.

Rombongan yang naik ke perahu dari Pulau Cat Ba ternyata lebih banyak dari yang kemarin turun. Mereka adalah turis-turis yang memilih paket dua malam di Pulau Cat Ba atau pindahan dari perahu lain.
Photobucket - Video and Image Hosting
Desa Nelayan di dekat Pulau Cat Ba.

Dalam perjalanan kembali perahu berhenti untuk memberikan kesempatan berenang di sebuah teluk yang sangat tenang dengan air hijaunya. Hanya beberapa orang yang berenang sisanya ada yang berjemur, walaupun matahari masih terhalang awan mendung.

Jam 11.00 sampailah kami di dermaga, makan siang telah disiapkan di sebuah restaurant di tepi dermaga. Jam 12.30 kami sudah dalam perjalanan menuju ke Hanoi.

Selesailah perjalanan yang menakjubkan. Perjalanan Halong Bay dengan menginap di perahu ini hanya menghabiskan US $ 28 per orang.
Photobucket - Video and Image Hosting

Besok sore kami akan kembali ke Singapura dan lusanya saya kembali ke Jakarta lewat Batam. Perjalanan yang sangat menyenangkan.

(12 - 19 Agustus 2006)