Tuesday, May 24, 2005

Sate Jamu

Hari Kamis malam minggu lalu kami berangkat ke Solo untuk menghadiri resepsi pernikahan teman kami. Perjalanan dari Jakarta tidak banyak mengalami hambatan. Jalur yang dipilih memang agak kosong apalagi kami berangkat dari Jakarta jam 23.00. Rute yang kami lewati Cikampek – Sadang – Subang – Kadipaten – Cirebon – Tegal – Kendal - Semarang – Bawen – Boyolali dan Solo.

Jam 12.00 kami sampai di Solo dan langsung menuju ke Hotel Sahid Kusuma Solo tempat kami menginap dan kebetulan juga tempat resepsi nanti malam. Setelah mandi dan beres-beres kami menghantarkan mempelai pria ke salon karena mobil mempelai pria harus kami bawa kembali ke hotel, mempelai pria dari salon akan menggunakan mobil pengantin.

Jam menunjukkan pukul 15.00 makanan terakhir yang masuk waktu sarapan di Kendal jam 07.00. Kebetulan di depan salon tempat teman kami didandani ada kedai sate dan tongseng. Kamipun bergegas menuju ke sana. Jadi kami masuk bukan dari depan kedai itu tapi dari bagian belakang karena paling dekat dengan halaman salon.

Di atas meja tersedia beberapa bungkusan ternyata isinya adalah gorengan jeroan. Saya mengambil satu, teman yang lain mengambil dua, teman lainnya mengambil satu juga tetapi belum sempat masuk ke mulutnya, pelayan warung itu menumpahkan tempat cuci tangan sehingga gorengan yang dipegangnya terlepas dan celananya basah. Muka teman saya yang satu ini langsung “longsor” ditambah dengan langsung ngeloyornya pelayan itu tanpa minta maaf. Teman saya yang lain bertanya ada menu apa saja dan di jawab : sate, tongseng dan rica-rica. Kamipun langsung bersahut-sahutan menyatakan pilihan kami ada yang pilih tongseng ada yang pilih sate. Teman kami yang sama menanyakan daging apa yang digunakan, karena dia punya penyakit asam urat jadi dia harus tahu daging apa yang akan dikonsumsi. Jawaban dari penjaga warung itu di luar dugaan kami semua. “ Daging Anjing “ , seperti tidak percaya apa yang didengarnya dia bertanya lagi dan dia mendapat jawaban yang sama. Muka teman saya yang sebelumnya sudah “longsor” makin “longsor” lagi. Sayapun segera membayar gorengan yang sudah kami buka dan segera keluar dari warung itu.

Di depan warung itu kami baru melihat namanya Waroeng Pemuda,Sate Jamu & Rica-rica "Mbak Dwi". Ada gambar anjing (yang mirip-mirip sama kambing) di tengah-tengah piring dengan sendok dan garpu di sisinya. Huekkkk…. sepotong kecil usus yang baru saja saya telan seperti mau keluar lagi.

Image hosted by Photobucket.com

Foto oleh : Wahyu Wening

Di Solo banyak bertebaran Sate Jamu alias Sate Anjing. Warung yang kami datangi itu sampai kami meninggalkan salon jam 16.20 selalu ramai didatangi pengunjung. Jam makan siang sudah habis sementara jam makan malam belum lagi dimulai tapi tak henti-hentinya tamu yang datang ke warung itu.

Teman saya berujar, liat tuh nggak ada tampang dosa ya mereka…. Teman saya yang satu ini memang pecinta anjing jadi dia agak reaktif melihat banyaknya tamu yang datang.

Setiap mengenang kejadian itu kami tertawa terbahak-bahak, hampir aja masuk jebakan Batman.

3 Comments:

At 4:22 PM, Blogger iwan paul said...

emang kenapa kalo makan anjing dit? kan lo suka nyobain makanan. dan rasanya di agama lo gak diharamin kan? huehehehe.. gw pernah nyoba, lumayan enak kok.. kekeke.. (walaupun gw jg pecinta anjing.. huaa.. ;p)

 
At 4:34 PM, Blogger didit said...

Nggak enak sama Anubis, Wan.

 
At 9:23 AM, Blogger yirfan said...

aq bener ga nyangka kalo sate jamu bener2 ada dan se-semarak itu sebelumnya. Namun setelah field trip (Jkt-Jgj-Sub)minggu lalu, semua terbukti dan semaraknya luar biasa. pantesan saja di jalanan kampung jarang ada segawon....apa bisa masuk acara "maknyus" TransTV ya..

 

Post a Comment

<< Home